Korban Tabrak Maut di Singapura Masih di ICU, Netizen Ajak Galang Donasi

Raisha Anindra Pascasiswi, ibu seorang anak WNI berusia enam tahun yang menjadi korban dalam kecelakaan tragis di Chinatown, Singapura, tengah menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Kejadian tersebut telah menarik perhatian banyak orang, terutama di kalangan alumni Universitas Indonesia, yang merasakan empati mendalam terhadap keluarga Raisha.

Penggalangan dana untuk membantu biaya perawatan Raisha dilakukan melalui media sosial, dan sudah berhasil mengumpulkan banyak dukungan dari teman-teman dan masyarakat. Banyak yang merasa tergerak untuk membantu setelah membaca kabar duka yang menghentak hati ini.

Peristiwa Tragis yang Mengguncang Keluarga

Peristiwa naas ini terjadi pada 6 Februari 2026 saat Raisha dan anaknya, Sheyna Lashira, sedang berlibur di Singapura. Mereka dilaporkan ditabrak mobil, yang membuat kondisi Raisha kritis dan memerlukan perawatan intensif segera.

Sheyna, yang masih berusia enam tahun, dinyatakan meninggal dunia akibat cedera berat berdasarkan hasil autopsi. Berita ini mengejutkan banyak pihak, terutama keluarga dan teman-teman dekat mereka.

Setelah kejadian tersebut, jenazah Sheyna dipulangkan ke Indonesia dan dimakamkan pada 8 Februari 2026. Sementara itu, Raisha harus berjuang untuk mendapatkan perawatan yang diperlukan agar bisa pulih dari kondisi yang masih lemah.

Penggalangan Dana dan Dukungan dari Masyarakat

Penggalangan dana untuk membantu biaya perawatan medis Raisha dimulai oleh teman-teman alumni Universitas Indonesia, dan telah mendapatkan respons yang luar biasa dari masyarakat. Melalui platform media sosial, ajakan untuk berdonasi telah disebar dan mencapai ribuan orang.

Akun Instagram dari Ikatan Alumni Universitas Indonesia menjadi salah satu wadah penggalangan dana ini, ditandai dengan banyaknya likes dan shares yang menunjukkan perhatian publik. Teman-teman Raisha berharap, dengan dukungan ini, ia bisa mendapatkan perawatan yang layak.

Seluruh donasi yang terkumpul akan disalurkan ke rekening suami Raisha, Ashar Ardianto. Ini merupakan langkah nyata dari solidaritas yang ditunjukkan oleh komunitas akademis mereka.

Keberadaan KBRI dan Penanganan Awal

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Singapura turut berperan aktif dalam menangani situasi ini. Mereka telah mengcoordinate bantuan untuk Raisha dan keluarganya sejak hari kejadian, menyediakan dukungan baik moral maupun materiil.

KBRI melakukan penyelidikan lebih lanjut mengenai situasi Raisha dan melakukan pemeriksaan kondisi medis secara berkala. Tim kedutaan berkomunikasi dengan pihak rumah sakit dan keluarga untuk memastikan semua kebutuhan Raisha terpenuhi.

Di samping itu, KBRI juga menawarkan bantuan dari segi hukum jika diperlukan oleh keluarga Raisha. Mereka berharap dengan adanya dukungan ini, seluruh proses bisa berjalan lebih baik untuk keluarga yang sedang berduka ini.

Kondisi Kesehatan Raisha dan Rencana Pemulangan

Setelah mengalami perawatan intensif, KBRI mengabarkan bahwa Raisha kini telah sadar meski masih berada dalam kondisi yang cukup lemah. Dia memerlukan perawatan lanjutan sebelum rencana pemulangan ke Indonesia bisa dilakukan.

Tim dokter menyarankan agar pemulangan ditunda sedikit waktu karena kondisi Raisha belum memungkinkan untuk dievakuasi. Ini menjadi perhatian utama bagi keluarga yang berharap ia bisa segera kembali ke rumah.

Raisha diharapkan mendapat perawatan terbaik hingga dapat kembali pulih dan bersama keluarganya. Ia sangat dibutuhkan oleh suami dan anak-anaknya dalam situasi sulit ini.

Related posts